Penegak Sunnah

Belajar Hidup Sesuai Sunnah Nabi

Internet Marketers Nahdlatu Ulama

DOA HADROTUSY SYAIKH HASYIM ASY'ARI

Pada 2009, seorang Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang bersama M Mansyur diutus oleh KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) untuk menemui KH Abdul Muchith Muzadi di kota Jember, Jawa Timur. Saat itu, Gus Sholah meminta kepada mereka untuk menggali kisah-kisah Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari melalui Kiai Muchith yang merupakan santri langsung Hadratusy Syaikh.

Hasil dari wawancara eksklusif dua hari itu alhamdulillah menjadi sebuah buku yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng. Di sela-sela mewawancarai Kiai Muchith, mereka berdiskusi panjang dengan Kiai Nur, kiai yang merupakan Alumnus Pondok Pesantren Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Dengan ketulusan hati, beliau mempersilakan mereka untuk menginap di rumahnya selama berada di Jember. Dan, sebuah kebetulan yang sangat luar biasa, di rumah beliau itu mereka menemukan sebuah dokumen yang sangat penting. Isinya adalah sebuah doa Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang dikhususkan untuk NU. Berikut adalah do’a tersebut:

DO’A HADRATUSY SYAIKH KH MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI UNTUK NAHDLATUL ULAMA

:دعاء حضرة الشيخ كياهي حاجي محمد هاشم أشعري رحمه الله

اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوْبَ الْعُلَمَاءِ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نَوْمِ غَفْلَتِهِمِ الْعَمِيْقِ وَاهْدِهِمْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. اَللّٰهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَحْيِ جَمْعِيَّتَنَا جَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ حَيَاةً طَيِّبَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِبَرَكَةِ “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)”، “فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧)” وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَسُوْءٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
(٣x بعد المفروضة)
أجازنا الشيخ خطيب عمر، عن والده الشيخ عمر، عن الشيخ أسعد شمس العارفين، عن حضرة الشيخ محمد هاشم أشعري رحمهم الله

Bismillahirrochmanirrochim. Allohumma aiqizh qulubal ‘ulamai wal muslimina min naumi ghoflatihimil ‘amiq wahdihim ila sabilirrasyad. Allohumma ya Chayyu ya Qoyyum, ahyi jam’iyyatana Jam’iyyata Nahdlotil Ulamai chayatan thoyyibatan ila yaumil qiyamah bibarakati “Falanuhyiyannahu chayatan thayyibah”, “Faj’al af-idatan minannasi tahwi ilaihim warzuqhum minatssamarati la’allahum yasykurun”, Warzuqhum quwwatan ghalibatan ‘ala kulli bathilin wa zhalimin wa fachisyin wa su’un la’allahum yattaqun.

Artinya:

“Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama dan umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan dan tuntunlah mereka ke jalan petunjukMu. Ya Allah, yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, hidupkanlah Jam’iyah kami Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan kehidupan thoyyibah (kehidupan yang baik sesuai kehendakMu) hingga hari Kiamat dengan berkah ayat:

فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)، فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧)1

(Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (Qur’an Surat An-Nahl:97). Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Qur’an Surat Ibrahim: 37). Dan karuniakanlah mereka rizqi (berupa) kekuatan yang mengalahkan kebathilan, kedzaliman, ketidaksenonohan dan keburukan agar mereka bertaqwa".

Wali tanpa Nama dan Gelar


Tulisan ini diambil dari sebuah group facebook, yaitu group DASI ( Dagelan Santri Indonesia), panjang banget memang… Tapi, cobalah baca dengan teliti dan sabar,sampai selesai… Pelan – pelan… resapi, Insya allah kita bisa mengambil hikmah dari cerita ini.
Suatu hari aku bertemu dengan orang gila ( Al-majnuni Murokab )tak jauh dari makam seorang wali, ia ngoceh ga jelas seperti sedang bicara dengan seseorang, dia berbicara seperti ini:
.
“andaikan mereka tahu bahwa ada wali “tanpa nama tanpa gelar” yang memiliki kemampuan seperti wali qutb niscaya mereka akan datang berbondong-bondong mencium tangan wali tanpa nama tanpa gelar tersebut minta di do’akan hajatnya, jika wali tanpa nama tanpa gelar itu telah wafat niscaya mereka akan berlama-lama dipekuburannya berdzikir, berdo’a dan bermuhasabah diri meminta ampun kepada ALLAHU MAHA PENGAMPUN atas dosa-dosa mereka selama ini Andaikan mereka tahu jika mereka sami’na wa athona kepada wali tanpa nama tanpa gelar niscaya ALLAHU SWT akan angkat derajatnya, Namun sayang sekali karena wali tersebut tanpa nama dan tanpa gelar kewalian maka ia seringkali dilupakan dan diabaikan setiap orang” aku yang dengar ocehannya kaget dam bergumam “hahhh??? ada wali tanpa nama tanpa gelar yang kemampuannya seperti wali qutb? Siapakah wali tersebut?”
.
dengan sedikit rasa takut-takut aku dekati dia karena penasaran ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut?
.
lalu terjadi dialog:
.
Aku : maaf mbah tadi saya dengar mbah ada mengoceh panjang lebar dan berbicara tentang wali tanpa nama tanpa gelar, siapakah sebenarnya wali tersebut mbah? mengapa sedemikian hebatnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut hingga kemampuan dan derajatnya hampir menyamai wali qutb?
.
Orang gila tersebut menoleh kearahku dan matanya sedikit melotot lalu berkata :
.
“sampeyan siapa? kamu nguping omonganku yach? Apa pentingnya kamu perlu merasa tahu tentang wali tanpa nama?”
.
Ucapnya dengan nada agak tinggi, Mendengar ucapan suaranya yang agak bernada tinggi terkesan kasar membuat aku sedikit takut dan gentar, lalu berkata :
.
“maaf mbah, bukan maksud saya menyinggung mbah, nama saya Bolank saya seorang muhibbun pecinta para wali-wali ALLAHU, kadang-kadang saya dan teman-teman sprti M Darjo Huda Naja Suluk Ahmad Nawan Nyel berziarah ke makam para wali, saya penasaran dan tertarik dengan wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah sebutkan, kalau boleh tahu siapakah wali tersebut mbah?”
.
Orang gila itu tertawa terbahak-bahak dan berkata: “HA HA HA HA HA HAA ….. dasar bocah goblog, namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, tentu saja aku tidak tahu nama wali tersebut dan apa gelar kewaliannya, kamu ini tampang keliatan pintar tapi ternyata goblog yach, HA HA HA HA HA”
.
JLEEB, terasa menusuk sekali perkataannya dia menyebut aku anak bodoh dan goblog, wajahku merah padam menahan sedikit emosi, sepertinya aku salah sangka kukira orang gila tersebut orang yang bisa diajak dialog, tapi nyatanya dia sebut aku bocah goblog, yach aku memang goblog namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar jadi siapa yang tahu nama wali tersebut? siapa yang tahu gelar wali tersebut sedangkan wali tersebut tanpa gelar?, ach sudahlah sebaiknya kutinggalkan saja dia, aku pun mulai membalikkan badan dan membuang muka dengan wajah masam hendak meninggalkan orang gila tersebut,
.
“Hai fikri mau kemana sampeyan, sampeyan ini bagaimana sudah datang tidak mengucapkan salam, malah pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam, baru diejek begitu saja sudah bermuka masam, apakah mursyidmu yang seorang wali qutb tidak mengajarkanmu untuk mengucapkan salam saat datang dan pergi? apakah mursyidmu yang seorang wali tidak mengajarkanmu untuk bisa bersabar menahan celaan dan hina an?”
.
langkahku terhenti, astaghfirullah …. betul sekali, aku tadi lupa mengucapkan salam sebelum memulai obrolan dan aku juga pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam, dan tak kusangka dia menyebut mursyidku seorang wali qutb, sepertinya dia mengenal mursyidku
.
kemudian aku kembali menghampirinya dan berkata “assalammu’ alaikum wr. wb. mbah, mohon maaf mbah atas kelancangan saya karena datang dan pergi tanpa mengucapkan salam, sekali lagi saya mohon maaf” (sambil mencoba meraih tangannya untuk menyalami dan mencium tangannya), orang gila itu menepis tanganku seraya berkata “wiss sudah , cukup bilang minta maaf dan tak perlu cium tangan segala”
.
aku jadi salah tingkah, tiba-tiba suasana hening sejenak beberapa menit, aku diam dan diapun diam suasana serasa seperti di kuburan
.
“ngapain kamu masih disini?”
.
tiba -tiba suaranya memecah keheningan, aku agak kaget lalu berkata :
.
“maaf.. anu mbah … anu” , orang gila itu menyela kalimatku “anu … anu …. anu-anu apa? ngomong yang jelas jangan ngomong jorok, itu anumu ada disitu, mau pamer dan adu anu? ayo sini aku ladenin, mana anumu? ayo tunjukkan”
.
annnnccur … mukaku rasanya merah padam, merasa salah tingkah dan bodoh dihadapan orang gila tersebut,
dengan rasa sedikit menahan malu aku tetap memberanikan diri untuk bertanya :
.
“maksud saya bukan anu mbah , maksud saya adalah ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah katakan saat saya mencuri dengar”
.
orang gila bertanya “kamu ini ga pinter pinter juga, sudah berapa lama kamu belajar tassawwuf/spritual?”
.
aku menjawab “sudah sekitar hampir 7 tahun, mbah”
lalu orang gila itu berkata sambil menepuk pahanya :
.
“sudah 7 tahun masa kamu ora mudeng dan tidak tahu wali tanpa nama dan tanpa gelar, memangnya gurumu tidak mengasih tahu?”
.
aku menjawab “saya sering membaca dan mendengar suhbah dari guru saya mbah, tapi saya belum tahu dan belum pernah dengar ada wali tanpa nama dan tanpa gelar, dan guru sayapun tidak pernah menyebutkan siapa wali tersebut?”
.
orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata “sebenarnya gurumu ada menyebutkannya bahkan berulang-ulang kali menyebutkannya hanya saja kamu aja yang ga faham-faham dengan maksud gurumu, lagipula sebutannya wali tanpa nama dan tanpa gelar jelas gurumu tidak tahu nama wali tersebut dan tidak tahu gelar wali tersebut tapi kamu sendiri tahu siapa wali tersebut, bahkan wali tersebut begitu dekat denganmu”
.
aku bergumam dalam hati “apaaa?? aku mengenal wali tersebut? siapa dia?”, aku tambah penasaran siapakah wali tersebut yang dimaksud orang gila tersebut lalu aku bertanya :
” maaf mbah , siapakah yang mbah maksud? mbah katakan aku mengenal wali tanpa nama dan tanpa gelar tersebut, bahkan mbah mengatakan wali tersebut dekat denganku , siapakah yang mbah maksud??”
.
orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh “he .. he … he … wali tanpa nama dan tanpa gelar itu adalah orangtuamu sendiri, nah sekarang aku tanya kamu memangnya aku kenal siapa nama orangtuamu dan gelar orangtuamu? yach aku mana tahu”
.
aku jadi tambah bingung lalu semakin bertanya-tanya
.
“orangtuaku? maksud mbah orangtuaku adalah wali tanpa nama dan tanpa gelar? mengapa bisa begitu mbah?”
.
orang gila itu mulai menatap mataku dengan tajam , lalu bangkit dari duduknya lalu berkata :
“apakah kau tidak tahu tentang uwaisy al qarni, salah satu sahabat yang tidak pernah bertemu NABI secara fisik dan juga seorang wali? apa yang menyebabkan dia memiliki derajat yang begitu agung hingga namanya terkenal di langit walau dibumi tak ada seorangpun mengenalnya? kau tahu??!! sahabat uwaisy al qarni berkata bahwa ibunya pernah berkata dan mendo’akannya “anakku uwaisy aku tahu hatimu begitu sangat mencintai dan menginginkan dapat bertemu NABI MUHAMMAD SAW, namun kini kau datang padaku dengan wajah dirundung sedih karena tak berhasil menemui RASULULLAH SAW dan kau memilih segera pulang karena memikirkan dan mengkhawatirkan aku ibumu ini nak , dan aku ridho padamu, YA ALLAHU kau MAHA TAHU, saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah ridho pada anakku, maka terimalah ridho ku ya ALLAHU dan ridhoilah anakku uwaisy”,
dan apa kau tidak kau tahu bahwa SHULTANUL AWLIYA SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI , dimasa kecilnya ketika dirampok malah berkata jujur tentang kantung emas yang ia bawa, perampok itu heran mengapa ia malah jujur mengatakan kantung emas yang dibawanya padahal setiap orang yang mereka rampok selalu berbohong tentang bawaannya dan berusaha menyembunyikannya dari mereka, lalu kau tahu apa kata SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI? beliau berkata “ketika aku hendak bepergian menuntut ilmu ibuku berpesan “anakku .. bila engkau bertemu dengan siapapun maka jujurlah jangan berbohong, sungguh ibu lebih ridho bila engkau jujur sekalipun engkau harus kehilangan harta dan perbekalanmu daripada kau
harus kehilangan kejujuranmu”
.
aku tersentak kaget, wajahku mulai pucat pasi, teringat olehku salah satu hadist yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik dan berbakti pada orangtua kita sendiri, bahkan RASULULLAH SAW sampai 3 kali menyebut kata “ibumu, ibumu ,ibumu .. lalu ayahmu” , tak kusangka ternyata aku tertipu oleh nafsu dan egoku sendiri, hingga aku tak tahu bahwa selama ini wali tanpa nama yang memiliki kemampuan layaknya wali quthb adalah orangtuaku sendiri ….
.
lalu orang gila berkata kembali :
.
” lihatlah ibumu, berapa lama dia menanggung dirimu dalam perutnya? apakah kau sanggup menahan perih dan pedih seperti dirinya hanya untuk menginginkan kau lahir di dunia hingga bertaruh nyawa agar kau terlahir sehat dan selamat?? bahkan ketika dalam kondisi darurat ia lebih rela menerima kematian agar kau tetap hidup … apakah kau pernah memikirkan hal ini ?? kekuatan apa yang membuat ibumu sekuat dan setabah itu sebagaimana kekuatan awliya yang sanggup menerima dan menanggung beban yang berat? itu kekuatan ALLAHU SWT yang dianugerahkan kepada ibumu melalui RAHMAN dan RAHIM NYA , ini adalah sumber kekuatan para AWLIYA”
.
aku diam seribu bahasa rasa hati ini ingin menangis sejadi-jadinya, aku serasa dihakimi dalam hari perhitungan …
lalu orang gila itu berkata lagi “kau bangga dan takjub dengan karomah para wali tapi pernahkah kau banggakan dan takjub dengan karomah ibumu yang ALLAHU SWT anugerahkan kepadamu? pernahkah kau bangga dan takjub dengan karomah ibumu yang mengajarkan berkata-kata ketika masih bayi? tidurnya sedikit karena kau selalu nangis dan rewel sebagaimana para AWLIYA yang tidurnya sedikit karena memikirkan ummat NABI MUHAMMAD SAW yang banyak berkeluh kesah dan merengek …. air susunya seakan akan tak pernah habis setiap kali kau merengek ingin netek , apakah kau tak tahu kalau itu adalah bukti karomah ibumu?, tidakkah kau pernah mendengar kalimat ini
.
“ridho orangtua adalah ridho nya ALLAHU , para awliya mereka menjadi wali quthb dikarenakan ridho dari orangtua mereka, tidakkah kau sadar bahwa do’a dan harapan kedua orangtuamu hampir setara dengan wali quthb?”
.
astaghfirullah … ampuuunnn …. mendengar celotehan orang gila tersebut seakan petir menyambar seluruh tubuhku, badanku rasanya hancur binasa … ingin sekali aku rasanya menangis sekuat-kuatnya …
.
orang gila itu berdiri lalu berkata sambil menunjuk kearahku “lihat dirimu, kelak kau akan jadi seorang bapak, apakah kau tahu karomah bapakmu selama ini? lihat tangannya, lihat punggungnya lihat kulitnya, setiap hari ia membanting tulang agar kau tetap bisa makan, tetap bisa tertawa , tetap tersenyum , bekerja siang dan malam hanya untuk mengabulkan segala macam pinta dan rengekmu, ketika kau kecil dirimu melakukan kesalahan dialah orang yang paling depan membelamu, ketika kau dalam bahaya dia rela menghadapi bahaya itu untuk menyelamatkanmu, dia tanggung bebanmu dan ibumu dipundaknya walau kian rapuh dia tetap berusaha menopang , tidakkah kau sadari bahwa bapakmu itu seorang MUJAHID FISABILILLAH ? yang setiap hari dia berjuang menafkahi kehidupanmu bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun, dia bapakmu adalah MUJAHIDIN kebanggaanmu”
.
ya RABB , aku seperti hancur lebur mendengar ocehan orang gila tersebut, bahkan ternyata selama ini aku yang gila bukan dia, aku melupakan siapa sesungguhnya orangtuaku sendiri, aku melupakan semua yang mereka beri padaku, bahkan aku sering takjub akan pesona dan karomah wali tapi aku tak pernah sadar dengan orangtuaku sendiri yang merupakan wali tanpa nama dan tanpa gelar kewalian, …
.
sesaat kemudian orang gila itu berlalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun …. aku mengikuti dia dari belakang ingin tahu kemana dia pergi … ternyata dia mendatangi 2 gundukan tanah, dan dia duduk disana …. mulutnya komat kamit seperti orang yang berdialog dan berbicara, namun karena dia menggunakan bahasa daerah yang tidak kumengerti aku tidak tahu apa yang dia ucapkan, lalu sesaat kemudian dia tertawa kebahak-bahak sambil senyam senyum dihadapan 2 gundukan tanah yang ternyata itu tanah kuburan, tapi aku tak tahu kuburan siapa itu namun aku berhusnudzon mungkin itu kuburan seorang wali besar, karena dari celoteh orang gila itu sepertinya dia tahu betul tentang wali jadi aku pikir itu kuburan seorang wali …. tiba-tiba setelah selesai dia tertawa , dia diam …. suasana menjadi hening …. kemudian kulihat dia mulai menangis meneteskan airmata dengan suara terisak-isak, tangisan begitu pilu sampai serasa menyayat hatiku untuk turut menangis … aku tak tahu apa yang diucapkannya dalam logat daerah, ucapannya seperti sedang curhat pada kuburan tersebut sambil tangannya mengelus – elus kuburan itu, tangisan kian jadi bahkan meraung, aku sedih bercampur bingung karena tak mengerti dengan bahasa yang diucapkannya … namun akhirnya aku mengerti mengapa dia meraung-raung menangis dikuburan yang kusangkakan seorang wali , ditengah isak tangisnya aku mendengar dia mengucapkan kalimat “mbok … ” , lalu pada kuburan yang sebelahnya dia berkata “mbah … ” , aku jadi ingin menangis sejadi-jadinya …. ternyata itu kuburan orangtuanya , ternyata itu kuburan seorang wali tanpa nama tanpa gelar … kini aku baru faham mengapa orang-orang mulai menganggap gila, sebab dia sering tertawa, menangis meraung, dan bercakap – cakap sendiri di kuburan … seandainya aku jadi dia mungkin aku akan sama dengannya menjadi gila karena ditinggal pergi oleh kedua orang paling yang disayangi …
aku membalikkan badanku … bergegas ingin pulang kerumah untuk menemui kedua orangtuaku yang masih hidup … aku merasa beruntung masih memiliki wali tanpa nama tanpa gelar yang masih hidup ….
.
sepanjang jalan aku berdo’a
allahumma firlana dzunubanna waliwalidayya warhamhumma kama robbaya nishagiro …

Mengenal Sejarah Kailolo, Kampung Kiai di Maluku

Maluku merupakan salah satu provinsi di bagian Timur Indonesia dengan kota Ambon sebagai pusat pemerintahan sekaligus ibu kota provinsi. Secara statistik, mayoritas orang maluku beragama Islam. Diperkirakan orang Muslim di Maluku mencapai 50,61 persen dari jumlah keseluruhan penduduk yang ada dari beberapa agama yang dianut mereka yaitu Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan kepercayaan lainnya. Provinsi ini dikenal dengan sebuatan provinsi seribu pulau, karena banyaknya jumlah pulau yang kurang lebih mencapai 1.450.

Dari 1450-an pulau ini ada beberapa pulau yang tidak berpenghuni dan belum memiliki nama. Namun sebagian pulau yang lain telah memiliki sejarah panjang, khususnya berhubungan dengan agama Islam dan para penjajah Barat yang datang mendominasi perdagangan cengkeh pada abad ke-16 M, di antanya adalah pulau Haruku. Pulau Haruku secara administratif terletak di kecamatan Haruku Kabupaten Maluku Tengah. Di pulau ini terdapat sebelas desa, empat di antaranya berpenduduk Muslim, bahkan satu di antaranya memiliki hubungan khusus dengan Muslim Arab, itulah desa Kailolo yang dulunya merupakan salah satu bagian dari kerajaan Islam Uli Hatuhaha di kepulauan Maluku pada abad ke-14 M.

Demikianlah hingga sekarang semua penduduk desa Kailolo beragama Islam. Kakek dan nenek moyang mereka telah menduduki perkampungan ini jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda dan Portugis. Menurut cerita lisan, Islam hadir di pulau Haruku tepatnya di desa Kailolo semenjak abad ke-8 M. Islam datang dibawa langsung oleh cicit Rasulullah Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Pendapat ini diperkuat dengan pada perwujudan 'karomah' Syekh Ali Zainal Abidinyang berupa pusara di atas bukit di Kailolo. Demikianlah Islam semakin berkembang hingga pada sekitar abad ke-12 M desa Kailolo pernah disinggahi oleh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Gresik. Kesaksian persinggahan ini menurut kisah para penduduk dinisbatkan pada 'karomah' makam Sunan Gresik di atas bukit satu tingkat di bawah pusara Syekh Ali Zainal Abidin.

Foto: Jejak tapak kaki dan tongkat Maulana Malik Ibrahim (kiri); Makam Karomah Maulana Malik Ibrahim (kanan) 

Secara nasab masyarakat Islam di Kailolo memiliki hubungan dengan Ali Zainal Abidin cicit Nabi Muhammad, kebanyakan dari mereka memiliki marga al-Haddad. Meskipun dalam perkembanganya kemudian kata al-haddad disembunykan dan diganti dengan bahasa lokal yaitu marasabessy. Penggunaan kata marasabessy sebagai pengganti al-haddad ini dilakukan untuk mengelabuhi kejaran para penjajah saat itu. Menurut Bakri tokoh NU setempat yang merupakan penduduk asli Kailolo, kata marasabessy memiliki arti cahaya yang lembut atau cahaya di atas cahaya. Dalam bahasa Arab kata ini memiliki kesamaan dengan nurun alan nuur, sebuah gelar penyebutan untuk memulikan Nabi Muhammad . Dengan menggunakan kata marasabessy ini masyarakat kailolo tetap merasa diri sangat dekat dengan Rasulullah. Pada sisi lain kata kata bessy juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kata al-haddad.

Demikianlah perkembangan Islam di Kailolo tidak pernah berhenti, secara perlahan namun pasti terjadi peningkatan kualitas pendidikan di sana. Banyak tokoh agama yang mengirimkan anaknya untuk belajar di Makkah, sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka juga belajar dari Makkah. Salah satu ulama besar dari Kailolo adalah tuan Guru Abdurrahman Marasabessy. Abdurrahman Marasabessy bukanlah sekadar seorang ulama biasa, beliau juga aktif dalam perjuangan melawan penjajah dan ikut dalam membangun negara ini. Abdurrahman Marasabessy memilih jalan perjuangannya melalui Nahdlatul Ulama. Dialah pendiri Nahdlatul Ulama di Maluku. Dalam sejarah, tercatat pada tahun 1954 Abdurrahman Marasabessy menjadi salah satu ulama yang ikut merumuskan status Waliyul Amri Dlaruri bis Syaukah dalam Konferensi Ulama di Cipanas Bogor yang diprakarsai oleh Menteri Agama RI KH Masykur.

Foto: Ziarah makam Syekh Abdurrahman Marasabessy, pendiri NU Maluku 

Menurut penuturan Abu Marasabessy yang juga dibenarkan oleh masyarakat Kailolo bahwa Abdurrahman Marasabessy merupakan tokoh nasional, beberapa kali dia pernah berjumpa dengan Kiai Wahid Hasyim. Hubungan keduanya ini digambarkan oleh Abu Marasabessy sangat akrab dan hangat, bahkan nama Gus Dur Abdurrahman Wahid konon diambil oleh Kiai Wahid dari Abdurrahman Marasabessy ini. “Kasihlah anak kamu dengan namaku, biar nanti jadi orang besar” demikian kisahnya. Hal ini dibenarkan oleh Gus Dur sendiri ketika Faisal seorang aktivis PMII Maluku sowan ke PBNU dan berjumpa langsung dengan Gus Dur.

Abdurrahman Marasabessy wafat pada tahun 1950an. Beliau dimakamkan di kampung persis di bibir pantai kailolo di bawah pohon yang cukup rindang. Banyak cerita beredar tentang keistimewaan makam Tuan Guru Abdurrahman Marasabessy. Makam berada di bibir pantai ini tidak pernah terkena air ombak lautan. Seolah makam ini telah bersepakat dengan laut untuk tidak sekali-kali mengirimkan ombaknya karena memuliakan waliyullah Abdurrahman Marasabessy yang ada di dalamnya. Begitu juga pepohonan rindang di sekelilingnya yang selalu belaku ta'dhim kepada Tuan Guru Abdurrahman Marasabessy untuk tidak membiarkan dauan-daunnya jauh mengotori maqbarah Tuan Guru.

Tuan Guru Abdurrahman Marasabessy memiliki murid Ali Marasabessy seorang yang alim dan zahid, sejarah tentang beliau tidak begitu banyak kecuali tentang cerita karomah semasa hidupnya. Dialah yang kemudian melanjutkan perjuangan sang guru dalam membina dan menjaga masyarakat Islam Kailolo dengan haluan Ahluss Sunnah wal Jamaah. Dia memiliki majilis dzikir disamping juga majlis ilmu tempat mengajarkan para murid ilmu-ilmu ke-Islaman. Ali Marasabessy dimakamkan di Kailolo pada tahun 1990 an. Makamnya selalu ramai diziarahi warga juga dikunjungi orang-orang dari luar daerah bahkan luar negeri.

Makam Tuan Guru Ali Marasabessy memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki makam lain. Makam ini menggunakan bendera Indonesia sebagai kain kelambu yang menutupi secara keseluruhan. Warna merah di bagian atas dan warna putih di bagian bawah dililitkan di empat tiang melingkari patok kuburan dengan tinggi dua meter. Karenanya, Apabila dilihat dari kejauhan nampak makam itu adalah kubus mirip kabah berbalutkan merah putih. Hanya saja kubus ini berada di dalam bangunan yg lebih besar lagi semacam rumah kecil untuk melindungi makam dari sentuhan alam secara langsung, baik angin, panas dan hujan

Tuan Guru Ali Marasabessy meninggalkan beberapa murid di antaranya adala Abdul Latif yang belajar dan meninggal di Makkah. Perjuangan Ali Marasabessy sekarang dilanjutkan oleh sang putra Alwi Marasabessy. Tidak jauh dari sang ayah Alwi Marasabessy memiliki majlis dzikir yang istiqamah diamalkan setiap minggu malam dan kamis malam jumat. Demikianlah mata rantai keilmuan di Kailolo terus berlanjut. Tuan Guru yang memiliki nilai keulamaan setingkay Kiai di Jawa terus lahir dari desa ini sehingga muncul adagium bahwa kata Kailolo merupakan tejemahan dai Kampung Kiai. (Ulil Abshar Hadrawi)

Foto: Makam Syekh Ali Marasabessy

Hukum Berdoa dengan Permintaan “Setengah” Mustahil


Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, saya ingin bertanya perihal doa. Agama Islam menganjurkan kita untuk berdoa kepada Allah selain janji pengabulan atas permintaan kita dalam doa. Pertanyaan saya, bolehkah saya berdoa meminta kesuksesan dalam karier dan kekayaan melimpah dalam tempo singkat? Mohon penjelasan. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suroso/Cilegon)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Islam menganjurkan kita untuk berdoa kepada Allah. Islam juga memandang doa sebagai bagian dari ikhtiar manusia dan bernilai ibadah. Perintah untuk berdoa tertera dalam Al-Baqarah ayat 186 sebagai berikut:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya, “Jika hamba-Ku bertanya perihal-Ku, maka (katakanlah) bahwa Aku dekat. Aku memenuhi seruan orang yang berdoa jika ia memanggil-Ku. Karenanya, hendaklah mereka memenuhi panggilan-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk,” (Al-Baqarah ayat 186).

Pada Surat Ghafir ayat 60, Allah memerintahkan manusia untuk berdoa. Allah juga menjanjikan pengabulan doa mereka.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya, “Tuhanmu berkata, ‘Serulah Aku, niscaya Kupenuhi panggilanmu,’” (Surat Ghafir ayat 60).

Dari dua ayat ini, kita dapat menarik simpulan bahwa kita bebas meminta apa saja kepada Allah SWT termasuk yang mustahil menurut akal sekali pun atau yang setengah mustahil seperti mustahil menurut adat dan niscaya Allah akan mengabulkan permintaan kita.

Meski kita bebas meminta apa saja, kita juga perlu memerhatikan adab berdoa. Salah satu adab berdoa adalah tidak meminta sesuatu yang tidak lazim secara adat atau yang dikenal sebagai mustahil adi (meski termasuk jaiz aqli).

Kita dapat menderetkan contohnya mustahil adi, yaitu mengharapkan kekayaan melimpah tanpa usaha, memohon kesuksesan karier tanpa melalui proses panjang, mengangan-angankan nilai bagus tanpa belajar, berharap menguasai sebuah keterampilan tanpa giat berlatih, dan berharap hidup sehat tanpa upaya olahraga, membatasi porsi makan, atau menolak polusi yang masuk ke dalam tubuh.

وأن لا يدعو بمحال ولو عادة لأن الدعاء يشبه التحكم على القدرة القاضية بدوامها وذلك إساءة أدب مع الله تعالى

Artinya, “Seyogianya tidak meminta sesuatu yang mustahil dalam doa, meski pun mustahil secara adat karena doa seperti itu serupa dengan memutuskan sesuka hati atas kuasa-Nya yang memutuskan keabadiannya. Doa seperti merupakan su’ul adab (tidak sopan) terhadap Allah,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Dari sini, kita mendapat keterangan bahwa doa memang tidak memiliki batasan. Tetapi kita perlu memperhatikan adab berdoa agar permohonan kita dalam berdoa tidak melewati batas, yakni meminta sesuatu yang mustahil seperti minta hujan uang atau yang setengah mustahil menjadi sukses dalam hal apa pun tanpa proses, kerja keras, dan upaya konkret dalam mewujudkannya.

Tetapi yang perlu dipahami dari sini, bahwa adab berdoa ini bukan berarti mengecilkan kuasa Allah SWT. Allah SWT pernah mengabulkan doa para nabi untuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati, menurunkan makanan dari langit sebagaimana berlaku pada mukjizatul anbiya dan karamatul auliya. Hanya saja adab berdoa ini mendidik kita untuk menghargai proses dan kerja keras.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)