Tulisan ini diambil dari sebuah group facebook, yaitu group DASI (
Dagelan Santri Indonesia), panjang banget memang… Tapi, cobalah baca
dengan teliti dan sabar,sampai selesai… Pelan – pelan… resapi, Insya
allah kita bisa mengambil hikmah dari cerita ini.
Suatu hari aku bertemu dengan orang gila ( Al-majnuni Murokab )tak
jauh dari makam seorang wali, ia ngoceh ga jelas seperti sedang bicara
dengan seseorang, dia berbicara seperti ini:
.
“andaikan mereka tahu bahwa ada wali “tanpa nama tanpa gelar” yang
memiliki kemampuan seperti wali qutb niscaya mereka akan datang
berbondong-bondong mencium tangan wali tanpa nama tanpa gelar tersebut
minta di do’akan hajatnya, jika wali tanpa nama tanpa gelar itu telah
wafat niscaya mereka akan berlama-lama dipekuburannya berdzikir, berdo’a
dan bermuhasabah diri meminta ampun kepada ALLAHU MAHA PENGAMPUN atas
dosa-dosa mereka selama ini Andaikan mereka tahu jika mereka sami’na wa
athona kepada wali tanpa nama tanpa gelar niscaya ALLAHU SWT akan angkat
derajatnya, Namun sayang sekali karena wali tersebut tanpa nama dan
tanpa gelar kewalian maka ia seringkali dilupakan dan diabaikan setiap
orang” aku yang dengar ocehannya kaget dam bergumam “hahhh??? ada wali
tanpa nama tanpa gelar yang kemampuannya seperti wali qutb? Siapakah
wali tersebut?”
.
dengan sedikit rasa takut-takut aku dekati dia karena penasaran ingin
tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut?
.
lalu terjadi dialog:
.
Aku : maaf mbah tadi saya dengar mbah ada mengoceh panjang lebar dan
berbicara tentang wali tanpa nama tanpa gelar, siapakah sebenarnya wali
tersebut mbah? mengapa sedemikian hebatnya wali tanpa nama tanpa gelar
tersebut hingga kemampuan dan derajatnya hampir menyamai wali qutb?
.
Orang gila tersebut menoleh kearahku dan matanya sedikit melotot lalu berkata :
.
“sampeyan siapa? kamu nguping omonganku yach? Apa pentingnya kamu perlu merasa tahu tentang wali tanpa nama?”
.
Ucapnya dengan nada agak tinggi, Mendengar ucapan suaranya yang agak
bernada tinggi terkesan kasar membuat aku sedikit takut dan gentar, lalu
berkata :
.
“maaf mbah, bukan maksud saya menyinggung mbah, nama saya Bolank saya
seorang muhibbun pecinta para wali-wali ALLAHU, kadang-kadang saya dan
teman-teman sprti M Darjo Huda Naja Suluk Ahmad Nawan Nyel berziarah ke
makam para wali, saya penasaran dan tertarik dengan wali tanpa nama
tanpa gelar yang mbah sebutkan, kalau boleh tahu siapakah wali tersebut
mbah?”
.
Orang gila itu tertawa terbahak-bahak dan berkata: “HA HA HA HA HA HAA
….. dasar bocah goblog, namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, tentu
saja aku tidak tahu nama wali tersebut dan apa gelar kewaliannya, kamu
ini tampang keliatan pintar tapi ternyata goblog yach, HA HA HA HA HA”
.
JLEEB, terasa menusuk sekali perkataannya dia menyebut aku anak bodoh
dan goblog, wajahku merah padam menahan sedikit emosi, sepertinya aku
salah sangka kukira orang gila tersebut orang yang bisa diajak dialog,
tapi nyatanya dia sebut aku bocah goblog, yach aku memang goblog namanya
juga wali tanpa nama tanpa gelar jadi siapa yang tahu nama wali
tersebut? siapa yang tahu gelar wali tersebut sedangkan wali tersebut
tanpa gelar?, ach sudahlah sebaiknya kutinggalkan saja dia, aku pun
mulai membalikkan badan dan membuang muka dengan wajah masam hendak
meninggalkan orang gila tersebut,
.
“Hai fikri mau kemana sampeyan, sampeyan ini bagaimana sudah datang
tidak mengucapkan salam, malah pergi begitu saja tanpa mengucapkan
salam, baru diejek begitu saja sudah bermuka masam, apakah mursyidmu
yang seorang wali qutb tidak mengajarkanmu untuk mengucapkan salam saat
datang dan pergi? apakah mursyidmu yang seorang wali tidak mengajarkanmu
untuk bisa bersabar menahan celaan dan hina an?”
.
langkahku terhenti, astaghfirullah …. betul sekali, aku tadi lupa
mengucapkan salam sebelum memulai obrolan dan aku juga pergi begitu saja
tanpa mengucapkan salam, dan tak kusangka dia menyebut mursyidku
seorang wali qutb, sepertinya dia mengenal mursyidku
.
kemudian aku kembali menghampirinya dan berkata “assalammu’ alaikum wr.
wb. mbah, mohon maaf mbah atas kelancangan saya karena datang dan pergi
tanpa mengucapkan salam, sekali lagi saya mohon maaf” (sambil mencoba
meraih tangannya untuk menyalami dan mencium tangannya), orang gila itu
menepis tanganku seraya berkata “wiss sudah , cukup bilang minta maaf
dan tak perlu cium tangan segala”
.
aku jadi salah tingkah, tiba-tiba suasana hening sejenak beberapa menit,
aku diam dan diapun diam suasana serasa seperti di kuburan
.
“ngapain kamu masih disini?”
.
tiba -tiba suaranya memecah keheningan, aku agak kaget lalu berkata :
.
“maaf.. anu mbah … anu” , orang gila itu menyela kalimatku “anu … anu ….
anu-anu apa? ngomong yang jelas jangan ngomong jorok, itu anumu ada
disitu, mau pamer dan adu anu? ayo sini aku ladenin, mana anumu? ayo
tunjukkan”
.
annnnccur … mukaku rasanya merah padam, merasa salah tingkah dan bodoh dihadapan orang gila tersebut,
dengan rasa sedikit menahan malu aku tetap memberanikan diri untuk bertanya :
.
“maksud saya bukan anu mbah , maksud saya adalah ingin tahu siapa
sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah katakan saat saya
mencuri dengar”
.
orang gila bertanya “kamu ini ga pinter pinter juga, sudah berapa lama kamu belajar tassawwuf/spritual?”
.
aku menjawab “sudah sekitar hampir 7 tahun, mbah”
lalu orang gila itu berkata sambil menepuk pahanya :
.
“sudah 7 tahun masa kamu ora mudeng dan tidak tahu wali tanpa nama dan tanpa gelar, memangnya gurumu tidak mengasih tahu?”
.
aku menjawab “saya sering membaca dan mendengar suhbah dari guru saya
mbah, tapi saya belum tahu dan belum pernah dengar ada wali tanpa nama
dan tanpa gelar, dan guru sayapun tidak pernah menyebutkan siapa wali
tersebut?”
.
orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh lalu berkata “sebenarnya gurumu
ada menyebutkannya bahkan berulang-ulang kali menyebutkannya hanya saja
kamu aja yang ga faham-faham dengan maksud gurumu, lagipula sebutannya
wali tanpa nama dan tanpa gelar jelas gurumu tidak tahu nama wali
tersebut dan tidak tahu gelar wali tersebut tapi kamu sendiri tahu siapa
wali tersebut, bahkan wali tersebut begitu dekat denganmu”
.
aku bergumam dalam hati “apaaa?? aku mengenal wali tersebut? siapa
dia?”, aku tambah penasaran siapakah wali tersebut yang dimaksud orang
gila tersebut lalu aku bertanya :
” maaf mbah , siapakah yang mbah maksud? mbah katakan aku mengenal
wali tanpa nama dan tanpa gelar tersebut, bahkan mbah mengatakan wali
tersebut dekat denganku , siapakah yang mbah maksud??”
.
orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh “he .. he … he … wali tanpa nama
dan tanpa gelar itu adalah orangtuamu sendiri, nah sekarang aku tanya
kamu memangnya aku kenal siapa nama orangtuamu dan gelar orangtuamu?
yach aku mana tahu”
.
aku jadi tambah bingung lalu semakin bertanya-tanya
.
“orangtuaku? maksud mbah orangtuaku adalah wali tanpa nama dan tanpa gelar? mengapa bisa begitu mbah?”
.
orang gila itu mulai menatap mataku dengan tajam , lalu bangkit dari duduknya lalu berkata :
“apakah kau tidak tahu tentang uwaisy al qarni, salah satu sahabat
yang tidak pernah bertemu NABI secara fisik dan juga seorang wali? apa
yang menyebabkan dia memiliki derajat yang begitu agung hingga namanya
terkenal di langit walau dibumi tak ada seorangpun mengenalnya? kau
tahu??!! sahabat uwaisy al qarni berkata bahwa ibunya pernah berkata dan
mendo’akannya “anakku uwaisy aku tahu hatimu begitu sangat mencintai
dan menginginkan dapat bertemu NABI MUHAMMAD SAW, namun kini kau datang
padaku dengan wajah dirundung sedih karena tak berhasil menemui
RASULULLAH SAW dan kau memilih segera pulang karena memikirkan dan
mengkhawatirkan aku ibumu ini nak , dan aku ridho padamu, YA ALLAHU kau
MAHA TAHU, saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah ridho pada anakku,
maka terimalah ridho ku ya ALLAHU dan ridhoilah anakku uwaisy”,
dan apa kau tidak kau tahu bahwa SHULTANUL AWLIYA SYEIKH ABDUL QADIR
JAILANI , dimasa kecilnya ketika dirampok malah berkata jujur tentang
kantung emas yang ia bawa, perampok itu heran mengapa ia malah jujur
mengatakan kantung emas yang dibawanya padahal setiap orang yang mereka
rampok selalu berbohong tentang bawaannya dan berusaha menyembunyikannya
dari mereka, lalu kau tahu apa kata SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI? beliau
berkata “ketika aku hendak bepergian menuntut ilmu ibuku berpesan
“anakku .. bila engkau bertemu dengan siapapun maka jujurlah jangan
berbohong, sungguh ibu lebih ridho bila engkau jujur sekalipun engkau
harus kehilangan harta dan perbekalanmu daripada kau
harus kehilangan kejujuranmu”
.
aku tersentak kaget, wajahku mulai pucat pasi, teringat olehku salah
satu hadist yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik dan berbakti
pada orangtua kita sendiri, bahkan RASULULLAH SAW sampai 3 kali menyebut
kata “ibumu, ibumu ,ibumu .. lalu ayahmu” , tak kusangka ternyata aku
tertipu oleh nafsu dan egoku sendiri, hingga aku tak tahu bahwa selama
ini wali tanpa nama yang memiliki kemampuan layaknya wali quthb adalah
orangtuaku sendiri ….
.
lalu orang gila berkata kembali :
.
” lihatlah ibumu, berapa lama dia menanggung dirimu dalam perutnya?
apakah kau sanggup menahan perih dan pedih seperti dirinya hanya untuk
menginginkan kau lahir di dunia hingga bertaruh nyawa agar kau terlahir
sehat dan selamat?? bahkan ketika dalam kondisi darurat ia lebih rela
menerima kematian agar kau tetap hidup … apakah kau pernah memikirkan
hal ini ?? kekuatan apa yang membuat ibumu sekuat dan setabah itu
sebagaimana kekuatan awliya yang sanggup menerima dan menanggung beban
yang berat? itu kekuatan ALLAHU SWT yang dianugerahkan kepada ibumu
melalui RAHMAN dan RAHIM NYA , ini adalah sumber kekuatan para AWLIYA”
.
aku diam seribu bahasa rasa hati ini ingin menangis sejadi-jadinya, aku serasa dihakimi dalam hari perhitungan …
lalu orang gila itu berkata lagi “kau bangga dan takjub dengan karomah
para wali tapi pernahkah kau banggakan dan takjub dengan karomah ibumu
yang ALLAHU SWT anugerahkan kepadamu? pernahkah kau bangga dan takjub
dengan karomah ibumu yang mengajarkan berkata-kata ketika masih bayi?
tidurnya sedikit karena kau selalu nangis dan rewel sebagaimana para
AWLIYA yang tidurnya sedikit karena memikirkan ummat NABI MUHAMMAD SAW
yang banyak berkeluh kesah dan merengek …. air susunya seakan akan tak
pernah habis setiap kali kau merengek ingin netek , apakah kau tak tahu
kalau itu adalah bukti karomah ibumu?, tidakkah kau pernah mendengar
kalimat ini
.
“ridho orangtua adalah ridho nya ALLAHU , para awliya mereka menjadi
wali quthb dikarenakan ridho dari orangtua mereka, tidakkah kau sadar
bahwa do’a dan harapan kedua orangtuamu hampir setara dengan wali
quthb?”
.
astaghfirullah … ampuuunnn …. mendengar celotehan orang gila tersebut
seakan petir menyambar seluruh tubuhku, badanku rasanya hancur binasa …
ingin sekali aku rasanya menangis sekuat-kuatnya …
.
orang gila itu berdiri lalu berkata sambil menunjuk kearahku “lihat
dirimu, kelak kau akan jadi seorang bapak, apakah kau tahu karomah
bapakmu selama ini? lihat tangannya, lihat punggungnya lihat kulitnya,
setiap hari ia membanting tulang agar kau tetap bisa makan, tetap bisa
tertawa , tetap tersenyum , bekerja siang dan malam hanya untuk
mengabulkan segala macam pinta dan rengekmu, ketika kau kecil dirimu
melakukan kesalahan dialah orang yang paling depan membelamu, ketika kau
dalam bahaya dia rela menghadapi bahaya itu untuk menyelamatkanmu, dia
tanggung bebanmu dan ibumu dipundaknya walau kian rapuh dia tetap
berusaha menopang , tidakkah kau sadari bahwa bapakmu itu seorang
MUJAHID FISABILILLAH ? yang setiap hari dia berjuang menafkahi
kehidupanmu bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun, dia bapakmu adalah
MUJAHIDIN kebanggaanmu”
.
ya RABB , aku seperti hancur lebur mendengar ocehan orang gila tersebut,
bahkan ternyata selama ini aku yang gila bukan dia, aku melupakan siapa
sesungguhnya orangtuaku sendiri, aku melupakan semua yang mereka beri
padaku, bahkan aku sering takjub akan pesona dan karomah wali tapi aku
tak pernah sadar dengan orangtuaku sendiri yang merupakan wali tanpa
nama dan tanpa gelar kewalian, …
.
sesaat kemudian orang gila itu berlalu meninggalkanku tanpa sepatah
katapun …. aku mengikuti dia dari belakang ingin tahu kemana dia pergi …
ternyata dia mendatangi 2 gundukan tanah, dan dia duduk disana ….
mulutnya komat kamit seperti orang yang berdialog dan berbicara, namun
karena dia menggunakan bahasa daerah yang tidak kumengerti aku tidak
tahu apa yang dia ucapkan, lalu sesaat kemudian dia tertawa
kebahak-bahak sambil senyam senyum dihadapan 2 gundukan tanah yang
ternyata itu tanah kuburan, tapi aku tak tahu kuburan siapa itu namun
aku berhusnudzon mungkin itu kuburan seorang wali besar, karena dari
celoteh orang gila itu sepertinya dia tahu betul tentang wali jadi aku
pikir itu kuburan seorang wali …. tiba-tiba setelah selesai dia tertawa ,
dia diam …. suasana menjadi hening …. kemudian kulihat dia mulai
menangis meneteskan airmata dengan suara terisak-isak, tangisan begitu
pilu sampai serasa menyayat hatiku untuk turut menangis … aku tak tahu
apa yang diucapkannya dalam logat daerah, ucapannya seperti sedang
curhat pada kuburan tersebut sambil tangannya mengelus – elus kuburan
itu, tangisan kian jadi bahkan meraung, aku sedih bercampur bingung
karena tak mengerti dengan bahasa yang diucapkannya … namun akhirnya aku
mengerti mengapa dia meraung-raung menangis dikuburan yang kusangkakan
seorang wali , ditengah isak tangisnya aku mendengar dia mengucapkan
kalimat “mbok … ” , lalu pada kuburan yang sebelahnya dia berkata “mbah …
” , aku jadi ingin menangis sejadi-jadinya …. ternyata itu kuburan
orangtuanya , ternyata itu kuburan seorang wali tanpa nama tanpa gelar …
kini aku baru faham mengapa orang-orang mulai menganggap gila, sebab
dia sering tertawa, menangis meraung, dan bercakap – cakap sendiri di
kuburan … seandainya aku jadi dia mungkin aku akan sama dengannya
menjadi gila karena ditinggal pergi oleh kedua orang paling yang
disayangi …
aku membalikkan badanku … bergegas ingin pulang kerumah untuk menemui
kedua orangtuaku yang masih hidup … aku merasa beruntung masih memiliki
wali tanpa nama tanpa gelar yang masih hidup ….
.
sepanjang jalan aku berdo’a
allahumma firlana dzunubanna waliwalidayya warhamhumma kama robbaya nishagiro …